Kamis, 10 Januari 2013

budaya palembang

Budaya Palembang : Akulturasi Melayu dan Jawa



Sebagai seseorang yang gemar mengamati seni dan budaya di lingkungan sekitar, tinggal di kota Palembang selama kurang lebih satu tahun memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Selain Jembatan Ampera dan empek-empek kekhasan kota Palembang adalah budayanya.
Budaya Palembang terpengaruh oleh budaya Melayu, Jawa, Tionghoa dan Arab.  Bahasa sehari-hari yang dipakai di kota Palembang disebut baso Palembang atau baso sari-sari. Bahasa  ini mengandung unsur kata bahasa Melayu dialek o seperti apo, cakmano, kemano,siapo dengan unsur kata bahasa Jawa seperti lawang, wong, banyu dan lain-lain. Atap rumah limas rumah adat Palembang hampir mirip dengan rumah joglo di Jawa Tengah. Pakaian pengantin Palembang model aesan gede merupakan percampuran budaya Melayu, Cina dan Jawa. Di Palembang ada juga wayang kulit yang mirip dengan wayang di Jawa.

Baju aesan gede

Rumah Limas

Wayang kulit Palembang
Saya kemudian bertanya-tanya sejak kapan unsur budaya Jawa masuk ke Palembang. Apakah sudah berabad-abad atau masuk sejak zaman transmigrasi era Orde Baru pak Harto. Dimana saat itu banyak keluarga dari pulau Jawa dipindahkan ke berbagai pulau di luar pulau Jaw termasuk Sumatera Selatan.
Pilihan pertama saya adalah bertanya kepada ibu kos dan kawan kuliah saya yang beberapa adalah wong Plembang.  Jawaban mereka tidak memuaskan. Saya kemudian bertekad mengunjungi museum Balaputeradewa. Saya lagi-lagi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Pertanyaan saya baru terjawab beberapa tahun kemudian setelah membuka-buka halaman internet tentang budaya Palembang.
Budaya Palembang dimulai sejak kerajaan Sriwijaya kerajaan maritim terbesar di nusantara yang mengalami puncak kejayaan pada abad 7 Masehi saat pemerintahan Balaputeradewa. Saat itu Palembang merupakan pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Sriwijaya juga berperan menyebarkan bahasa Melayu ke seluruh daerah jajahannya di nusantara, Malaysia dan Thailand selatan. Kemudian Sriwijaya mulai berkurang pengaruhnya pada abad ke-11 karena diserang kerajaan Cola dari India lalu akhirnya meredup.
Nama Palembang muncul lagi ketika mulai berdirinya kesultanan Palembang Darussalam pada abad 15 saat Islam mulai menyebar di Nusantara. Kesultanan Palembang Darussalam didirikan oleh sekelompok orang dari Kesultanan Demak Jawa Tengah yang kalah berperang dengan kesultanan Mataram Islam. Mereka dipimpin oleh Ki Gede Sido ing Lautan. Ki Gede Sido ing Lautan sendiri masih mempunyai darah Palembang. Saat itu di Palembang dipimpin oleh sekelompok pemimpin dari etnis Melayu. Singkatnya tanpa pertumpahan darah Ki Gede  Sido ing Lautan berhasil melakukan pendekatan dengan para pemimpin etnis Melayu dan menjadi sultan pertama Kesultanan Palembang.
Pada saat itu di lingkungan internal kerajaan dipakai bahasa Jawa halus sebagai bahasa resmi. Lambat laun hubungan interaksi antara pihak kerajaan yang berasal dari Jawa dengan masyarakat Palembang yang berbahasa Melayu membentuk sebuah bahasa baru yang sekarang dikenal sebagai bahasa Palembang / bahaso Plembang. Bahasa Palembang mengawinkan kosakata dari bahasa Melayu Palembang (dialek o) dengan bahasa Jawa. Bahasa Palembang juga mengenal baso alus/kramo (bahasa halus) dan baso sari-sari (sehari-hari). Selain bahasa, hubungan antara etnis Jawa dan Melayu akhirnya melahirkan sebuah budaya baru yang dikenal dengan budaya Palembang.
Kesultanan Palembang Darussalam mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II pada awal abad ke-19. Pada masanya dibangun Masjid Agung Palembang dan Benteng Kuto Besak. Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II mangkat, kesultanan mengalami kemunduran dan akhirnya kesultanan Palembang Darussalam dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1823.
Dewasa ini beberapa budaya Palembang terancam punah diantaranya bahaso alus Palembang dan wayang kulit karena sedikitnya pemakai bahaso alus dan dalang wayang kulit Palembang hanya tersisa satu orang.
*)

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates